Apakah Tantrum adalah Hal yang Normal? Ini Penjelasannya

Apakah Tantrum adalah Hal yang Normal? Ini Penjelasannya
Apakah Tantrum adalah Hal yang Normal? Ini Penjelasannya

Menganggap tantrum adalah hal yang normal sebenarnya sah-sah saja. Perilaku tantrum pada anak merupakan hal yang tidak terpisahkan. Akan tetapi, seringkali orang tua salah dalam menghadapi situasi dimana anak sedang mengalami ledakan emosi.

Baca juga : Tidak Cuma Pasangan, Kenali 5 Love Language untuk Diri Sendiri

Tantrum memang bisa dikatakan sebagai hal yang wajar. Justru jika dilihat dari sisi positifnya, banyak manfaat yang bisa diperoleh dari perilaku tersebut. Orang tua harus belajar lebih bijak dalam menghadapi perilaku tantrum.

Membedakan tantrum yang masih dalam batas normal dan tidak wajar adalah hal penting. Lebih jelasnya mengenai pembahasan perilaku anak ini, akan diulas di pembahasan berikut di bawah ini. 

Apakah Tantrum adalah Hal Wajar? Kenali Definisinya

Apakah Tantrum adalah Hal Wajar? Kenali Definisinya
Apakah Tantrum adalah Hal Wajar? Kenali Definisinya

Temper tantrum atau bisa juga disebut acting out behaviours merupakan hal yang kerap dilakukan anak-anak. Tantrum sendiri merupakan perilaku tidak diinginkan akibat respon akan kebutuhan yang tidak dipenuhi.

Tantrum juga bisa didefinisikan sebagai ledakan emosi saat keinginan anak tidak terpenuhi atau mengalami penundaan. Ketidakmampuan anak dalam mengontrol emosi karena turunnya toleransi terhadap rasa frustasi juga disebut tantrum.

Tujuan anak-anak melakukan tantrum adalah untuk memaksa agar keinginannya terpenuhi sesegera mungkin. Perilaku tersebut juga menunjukkan ketidakpuasan atau rasa frustasi terhadap sesuatu hal.

Acting out of behaviours ini juga bisa diartikan sebagai respon tidak tepat. Maksudnya, anak-anak yang sedang tantrum akan berpikir bahwa tindakan sebaiknya tidak akan direspon orang lain. Sebaliknya tindakan yang menurutnya buruk akan mendapatkan respon.

Anak belajar bahwa ketika dia melakukan perbuatan yang dianggap nakal, akan diperhatikan dan diberi kasih sayang lebih. Anak-anak dalam fase ini mulai belajar akan meminta perhatian, sehingga kadang berperilaku tantrum.

Umumnya, anak-anak yang sudah mulai mengenal tantrum berada di fase usia dua tahun ke atas. Usia tersebut merupakan awal bahasa-bahasa baru mulai dikenalnya. Akan tetapi, pada kasus tertentu tantrum bisa terjadi karena gangguan mental seperti autisme. 

Untuk tantrum yang masuk ke ranah demikian, biasanya berlangsung dalam interval yang lebih sering. Gangguan mental seperti Overindulgence atau kecemasan berlebih dari orang tua juga bisa menjadi penyebab anak tantrum. 

Beberapa Upaya dalam Menghadapi Anak yang Tantrum di Tempat Publik

Beberapa Upaya dalam Menghadapi Anak yang Tantrum di Tempat Publik
Beberapa Upaya dalam Menghadapi Anak yang Tantrum di Tempat Publik

Tantrum adalah perilaku yang bisa dikatakan impulsif. Anak-anak bisa melakukannya dimana saja, tidak peduli dilihat banyak orang atau di tempat umum. Untuk menghadapi situasi anak yang sedang meledak emosinya di tempat publik, ada beberapa cara:

  • Peluk Anak

Membiarkan anak tantrum tanpa perbuatan akan membuat inner child mereka terluka. Orang tua sebaiknya memberikan pelukan saat anak sedang tantrum di tempat umum. Jangan menimpali tangisan, cukup berikan pelukan yang hangat.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya tantrum adalah ledakan emosi sebagai wujud menuntut hal yang diinginkan. Akan tetapi, ledakan emosi ini bisa dikendalikan jika orang tua tidak ikut-ikutan emosi.

Kita bisa memeluk anak secara hangat, biarkan anak merasa aman dan tahu bahwa orang tuanya peduli. Walau kita tidak setuju dengan perilaku anak, tetap tunjukkan kepedulian lewat pelukan.

Berikan dekapan yang erat, tegas, tanpa mengatakan banyak kata saat mendekap. Orang tua tidak diperkenankan menyerah terlalu cepat saat anak sedang tantrum. Hal ini hanya akan mendidik anak tentang jalan pintas mendapatkan apa yang diinginkannya. 

  • Siapkan Kebutuhannya

Tahukah kalian bahwa penyebab tantrum adalah karena lapar salah satunya. Anak-anak akan meluapkan emosinya secara lebih intens jika merasa lapar. Agar situasi tantrum di keramaian tidak gampang terjadi, upayakan berikan anak makan sebelum pergi.

Pastikan si kecil merasa kenyang terlebih dahulu, baru beranjak pergi. Selain memastikannya kenyang, jangan memaksa pergi saat anak sedang kelelahan. Berikan hak anak untuk istirahat sejenak, baru memutuskan untuk pergi.

Contohnya belanja bulanan, kondangan, atau bepergian mengunjungi saudara. Bawa juga mainan dan camilan saat bepergian agar anak tidak merasa bosan. Walau tampak remeh, ternyata bisa menjadi pencegah tantrum yang ampuh di tempat publik. 

  • Jangan Memaksakan Kehendak

Seringkali orang tua menganggap anak sulit diatur padahal segalanya dimulai dari kita yang suka memaksakan kehendak. Misalnya saat sedang bepergian, si kecil sudah tampak kelelahan.

Akan tetapi, sebagai orang tua justru ngotot ingin mampir ke tempat lainnya tanpa memikirkan kondisi anak. Hal inilah yang bisa memicu anak mengalami tantrum karena merasa kelelahan.

Tentu saja sebagai orang tua tidak boleh sampai memaksakan kehendak saat bepergian. Tantrum adalah hal yang normal, akan tetapi wajib bagi orang tua untuk meminimalisirnya. Terlalu sering mengalami ledakan emosi juga dampaknya tidak terlalu baik untuk si kecil. 

  • Biasakan Melakukan Sounding

Upaya satu ini bisa kalian lakukan sebelum bepergian ke tempat umum. Sounding merupakan upaya memberitahu anak tentang tujuan, kegiatan, dan sejenisnya yang hendak dilakukan.

Misalnya jika hendak pergi belanja bulanan, berarti sebelum pergi sounding ke anak bahwa akan pergi belanja. Setelah itu, berikan aturan-aturan dasar selama berbelanja. Misalnya saja batasan dalam membeli barang, makanan, dan sebagainya.

Beritahu juga pada anak tentang destinasi lainnya yang hendak dituju. Tujuan sounding ini agar nantinya si kecil tidak kaget ketika tiba-tiba diajak ke tempat ramai. Tentu saja sangat bermanfaat agar tantrum tidak terjadi.

Benarkah Tantrum adalah Hal yang Memberikan Beberapa Manfaat? 

Benarkah Tantrum adalah Hal yang Memberikan Beberapa Manfaat? 
Benarkah Tantrum adalah Hal yang Memberikan Beberapa Manfaat?

Seringkali orang tua menganggap tantrum pada anak-anak adalah hal yang sangat menjengkelkan. Terlebih jika dilakukan di tempat umum yang tentu akan membuat panik sang anak sendiri.

Sebenarnya jika dilihat dari sisi baiknya, acting out of behaviours ini memberikan banyak manfaat. Bahkan manfaatnya tidak hanya dari sisi anak-anak, melainkan orang tua, seperti diantaranya:

  • Upaya Membantu Belajar Buah Hati

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, tantrum adalah ledakan emosi karena keinginan tidak terpenuhi. Sebenarnya ledakan emosi ini merupakan wujud anak sedang berjuang mengungkapkan perasaan frustasinya.

Perilaku tersebut akan membuat anak-anak belajar bagaimana mengendalikan diri. Anak-anak juga akan belajar sesuatu yang baru seperti bekerja sama, berkomunikasi, hingga mengatasi rasa emosi negatifnya. 

Jika sebagai orang tua kalian menanggapi tantrum secara tepat, hal ini akan menciptakan manfaat demikian. Anak lama-lama akan paham bahwa tantrum bukanlah cara yang tepat untuk menarik perhatian orang lain, apalagi memaksakan kehendak. 

  • Sarana Belajar Batasan Perilaku

Selain anak akan belajar hal-hal baru, ternyata tantrum adalah sarana agar anak bisa tahu batasannya. Umumnya saat sedang melakukan acting out of behaviours, anak akan berteriak, menangis.

Bahkan, tidak jarang ada yang sampai menggunakan amukan sebagai ‘senjata’ untuk meminta apa yang diinginkan. Jika orang tua bisa bersikap tegas, sabar dalam menghadapi tantrum anak, tentu efeknya akan positif.

Berbeda dengan ketika tantrum justru orang tua langsung memberikan apa yang anak mau. Dalihnya agar tangisan dan amukannya lekas tenang. Padahal dengan cara ini tidak akan membuat anak belajar batasan perilaku.

Jika dihadapi dengan benar, tantrum akan membuat anak paham bagaimana batasannya. Hal ini akan berimbas pada hari kemudian di mana anak tidak akan menggunakan amukannya sebagai senjata memaksakan sesuatu. 

  • Mendekatkan Ikatan Anak dan Orang Tua

Ketika anak sedang tantrum, seringkali banyak orang tua yang ingin meredakan ledakan emosi tersebut secara cepat. Padahal, biarkan dahulu anak melewati gejolak perasaan yang sedang dilalui. 

Perlu kita semua ketahui bahwa tantrum adalah bagian dari proses belajar anak. Tujuannya untuk mempelajari hal-hal baru seperti tambahan kosakata. Misalnya kosakata apa yang dapat membuat kebutuhannya terpenuhi dan tidak.

Ketika anak sedang tantrum, kita hanya perlu tetap tenang dan jangan terlalu banyak bicara. Cukup tawarkan beberapa kata untuk meyakinkan si kecil, baru berikan pelukan hangat. Tindakan tersebut secara juga berguna untuk membangun kedekatan dengan anak. 

Tantrum dianggap normal adalah perilaku yang nantinya akan berhenti sendiri, seiring perkembangan usia anak. Namun, ada kondisi di mana anak mengalami tantrum dengan intensitas sering. Kalian bisa berkonsultasi dengan dokter jika tantrum pada anak memiliki ciri-ciri:

  • Tantrum justru membuat anak sering menyakiti dirinya sendiri bahkan orang lain

  • Anak tampak tidak menyenangkan, menjadi terlalu banyak menuntut anak hampir tidak bisa diajak bekerja sama dan berinteraksi

  • Tantrum adalah hal wajar jika tidak sering dan cepat normal kembali. Jika lebih sering, bertahan lama, perlu tindakan dari dokter

  • Orang tua menjadi sering merasa marah hingga hilang kendali saat menghadapi anak yang sedang acting out of behaviour

Kesimpulannya, tantrum merupakan hal tidak terpisahkan dari dunia anak-anak seiring perkembangan usianya. Tinggal bagaimana respon orang tua dalam menghadapi perilaku anak yang demikian.

Baca juga : Apa Arti Strict Parents, Ciri-Ciri dan Dampaknya Bagi Anak

Tantrum bisa dikatakan hal yang normal apabila tidak bersifat intens hingga terasa mengganggu. Tantrum adalah hal yang sebaiknya ditangani oleh medis apabila dirasa sangat sering, agar tidak mengganggu perilaku anak. 

 

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts