7 Tips Menghadapi Quarter Life Crisis Anak Muda, Jangan Galau!

Quarter Life Crisis (QLC) merupakan keadaan dimana seseorang tengah berusaha mencari jati dirinya. Momen-momen tersebut akan dirasakan ketika Anda berusia antara 20 hingga 30 tahun, peralihan usia remaja ke dewasa.

Tidak sedikit anak muda dimana pada akhirnya merasa galau, dilema, sedih hingga merasa depresi ketika kebingungan menentukan jalan hidupnya. Apa yang sebenarnya diinginkan, kedepannya akan seperti apa, atau keputusan apa yang seharusnya diambil?

Transformasi tersebut memang cukup mengejutkan bagi sebagian besar orang. Ketika remaja yang baru saja lulus sekolah dipaksa untuk segera dewasa dengan menentukan ke arah mana mereka akan melanjutkan kehidupan.

Sayangnya, seringkali ekspektasi-ekspektasi dari diri sendiri membuat momen QLC jadi momok yang mengkhawatirkan. Merasa tertinggal, kurang pintar, tidak punya banyak uang dan masalah-masalah lainnya makin memperparah kondisi psikologis Anda.

Tips-tips Menghadapi dan Memandang Positif Quarter Life Crisis 

Menurut hasil penelitian ilmuwan seperti banyak dilakukan, 75% dari ribuan orang yang disurvei mengakui bahwa mereka mengalami fase QLC paling ekstrim ketika berusia 27 tahun. 

Jangan dianggap sepele, QLC bisa menyebabkan Anda terpuruk, bimbang dan cemas berkepanjangan hingga tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Nah, ketahui yuk, tips menghadapi quarter life crisis berikut:

1. Jangan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

 Quarter life crisis - Jangan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial sekarang turut memberikan pengaruh negatif terhadap psikologis seseorang. Kita bahkan menghabiskan banyak waktu senggang untuk bermain media sosial seperti Instagram dan Facebook.

Tanpa disadari hal itu justru menimbulkan perasaan membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain. Banyak teman seusia Anda sudah memamerkan kehidupannya, pekerjaan, belanja barang mewah hingga bepergian ke luar negeri.

Sementara Anda masih biasa-biasa saja? Ingatlah bahwa setiap orang mengalami quarter life crisis-nya masing-masing. Tidak semua sesuatu Anda lihat di media sosial adalah sebagaimana mestinya, mereka tidak mungkin memamerkan kesulitan bukan?

Alih-alih melihat pencapaian orang lain dengan rasa iri atau merasa bersalah terhadap diri sendiri, cobalah untuk menanamkan rasa syukur. Lihat bahwa Anda sejauh ini tidak jalan di tempat, paling tidak sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Daripada menghabiskan banyak waktu untuk melihat media sosial, Anda bisa memanfaatkannya untuk lebih produktif. Coba pekerjaan sampingan mungkin? Lakukan apa saja yang bisa membuat lupa akan dunia maya.

(Baca Juga: Pahami Yuk, Gaya Hidup Sehat Sangat Membantu dari Segi Finansial)

2. Jangan Terpaku Standar Lingkup Sosial

Quarter life crisis - Jangan Terpaku Standar Lingkup Sosial

Salah satu tanda sedang berada di fase quarter life crisis yakni merasa lebih lambat dari orang lain yang seumuran. Banyak teman sudah memiliki pekerjaan tetap, sudah menikah, punya anak bahkan memiliki kendaraan mewah.

Hal itu akan membuat Anda merasa “seharusnya di usia ini saya sudah ini, sudah itu, seperti mereka”. Jika iya, berarti Anda sedang terpaku dengan standar yang dibuat pada lingkup sosial pada umumnya. 

Akibat buruknya akan semakin tidak percaya diri dan lebih memilih untuk menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa malu. Namun ingatlah, setiap orang memiliki kesulitannya sendiri-sendiri.

Begitu juga dengan Anda, tidak harus buru-buru menikah untuk dianggap sudah mapan oleh orang lain. Yakinkan pada diri sendiri bahwa tidak ada satupun yang dapat mengendalikan keputusan Anda. 

Cobalah untuk lebih fokus dengan apa yang ingin dikejar sekarang atau mimpi apa belum tercapai. Tidak perlu mengikuti standar hidup yang dibuat masyarakat kebanyakan. Buat apa bisa beli mobil bagus kalau masih kredit?

3. Mengetahui dan Menentukan Skala Prioritas

 Quarter life crisis - Mengetahui dan Menentukan Skala Prioritas

Tanda lainnya ketika seseorang mengalami fase quarter life crisis yakni tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki skala prioritas yang jelas, alias hidup mengikuti arus.

Sah-sah saja jika ingin hidup tanpa ekspektasi agar tidak merasa kecewa. Namun hal itu tetap harus dibarengi dengan tujuan yang jelas agar kehidupan Anda tidak jalan di tempat.

Coba gali dan pikirkan kembali apa sebenarnya Anda ingin dicapai. Mau lanjut kuliah S2? Mau ikut kursus? Kerja di luar negeri? Ingin memulai usaha saja? Apapun itu, tentukan dulu keinginan Anda.

Dengan begitu akan lebih mudah dalam menentukan skala prioritas. Seperti hal disampaikan oleh Dr John Demartini bahwa motivasi utama seseorang adalah ketika mereka mampu menemukan value dari diri sendiri.

Value mengacu pada hal-hal dimana dianggap penting dan harus diprioritaskan. Tindakan ini secara tidak langsung akan menanamkan standar kesuksesan dari diri sendiri, bukan atas penilaian orang lain.

4. Cobalah Pindah ke Lingkungan Baru

Quarter life crisis -Cobalah Pindah ke Lingkungan Baru

Saat berada di fase quarter life crisis, tidak jarang kita merasa sangat bosan dengan rutinitas yang dilakukan setiap hari. Beberapa orang mengaku merasa terjebak di lingkungan mereka hingga tidak bisa melakukan hal-hal atau sesuatu lebih produktif.

Yuk, coba buat suasana atau pindah ke lingkungan baru. Tidak harus pindah jauh, mulailah dari hal-hal sederhana seperti mengubah nuansa meja kerja, pindah divisi atau tim di kantor, ambil cuti untuk liburan atau putuskan untuk pindah pekerjaan.

Tidak sedikit orang-orang terlalu lama di suatu lingkungan hingga membuat mereka merasa tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Bisa jadi karena merasa kurang nyaman, tidak puas dengan kerjaan sekarang atau lainnya.

Jadi, jangan ragu mengambil keputusan untuk pindah pekerjaan jika memang Anda merasa itu bukan pilihan tepat untuk terus bertahan. Apapun akan Anda lakukan, pastikan keputusan tersebut akan membawa pada mindset yang lebih produktif. 

5. Melatih Kesabaran dan Terima Setiap Kegagalan

Cobalah Pindah ke Lingkungan Baru - Melatih Kesabaran

Kebanyakan orang akan mengatakan kita harus sabar dan semangat saat menghadapi kegagalan. Baik gagal masuk universitas, gagal diterima kerja di perusahaan bonafit, gagal memiliki anak secepat mungkin atau lain sebagainya.

Faktanya, sebagian besar dari kita akan cenderung menyalahkan diri sendiri saat mengalami kegagalan tersebut. Padahal sebaik dan sebagus apapun manusia berencana serta berusaha, Tuhan yang memberikan kehendak.

Jadi, cobalah untuk lebih sabar dan terima dengan lapang setiap kegagalan yang Anda alami. Ingat, tidak semuanya harus terwujud sekarang. Kesuksesan juga membutuhkan proses dan tidak semua orang memiliki jalan yang sama.

Jika hari ini gagal, masih ada banyak waktu tersisa untuk memulai kembali atau mengusahakan keinginan yang lain. Berpikiran terbuka akan membantu Anda untuk bisa memandang sesuatu secara luas, termasuk mengambil pelajaran dari setiap kegagalan.

(Baca Juga: Zero Waste Lifestyle Cara Sederhana Menyelamatkan Lingkungan)

6. Jangan Biarkan Orang Terdekat Mempengaruhi Anda

Jangan biarkan orang terdekat mempengaruhi anda

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa justru orang-orang terdekat kita yang membuat fase quarter life crisis makin berat dijalani. Tuntutan keluarga tidak jarang membuat seseorang makin tertekan dan mengalami kecemasan berlebihan.

Kebanyakan keluarga, terutama orang tua, masih mengukur kesuksesan seorang anak dari banyaknya uang yang bisa mereka hasilkan. Atau dari jabatan mereka di pekerjaan. Parenting seperti ini masih banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Alih-alih memberikan motivasi, menyemangati maupun menawarkan solusi, orang terdekat biasanya hanya sekedar menuntut ini itu atas apa yang seharusnya kita capai. Jadi, jangan biarkan itu mempengaruhi Anda.

Hanya diri Anda sendiri yang tahu betul hal apa ingin dicapai. Setiap kesulitan dan tantangan yang dihadapi juga hanya diri sendiri paling paham. Oleh karena itu, untuk apa terlalu mendengar komentar orang lain.

Tidak masalah berkonsultasi dengan keluarga, tapi jangan sampai komentar dari orang terdekat justru membuat Anda takut untuk melangkah. Yakinkan pada diri Anda sendiri bahwa hanya kita yang berhak membuat keputusan. 

7. Merasa Positif dan Bangga Terhadap Diri Sendiri

Quarter life crisis - Merasa Positif dan Bangga Terhadap Diri Sendiri

Pencapaian orang lain tidak seharusnya membuat kita merasa lemah dan kurang percaya diri. Justru jadikan itu sebagai motivasi untuk lebih baik dan bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki saat ini.

Banggalah dengan diri Anda, terlebih jika memang sudah memiliki pekerjaan. Jika memang belum, yakinlah bahwa sejauh ini Anda melakukan yang terbaik. Tanpa disadari memang seringkali justru diri kita sendiri si pembuat pesimis dan tidak percaya diri.

Beberapa tips agar lebih self love atau mencintai diri sendiri diantaranya:

  • Jangan takut untuk pergi dari lingkungan toxic
  • Yakin bahwa value seseorang tidak ditentukan dari penampilan fisiknya
  • Mengutamakan kebahagiaan dan kenyamanan diri sendiri
  • Luangkan waktu untuk me time
  • Berhenti meniru gaya orang lain
  • Tidak perlu gengsi, jadilah diri sendiri
  • Maafkan diri Anda atas setiap kesalahan yang dilakukan
  • Bergaul dengan orang-orang yang menyayangi dan juga disayang

Siapapun pasti pernah merasa berada di titik terendah dalam hidupnya. Apalagi generasi milenial saat ini tengah dihadapkan dengan berbagai tuntutan hidup dan realita. Kami harap, dengan tips-tips di atas bisa membantu Anda untuk melalui fase quarter life crisis dengan bijak.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts