Alasan Dolar Tidak Dipakai untuk Mata Uang Dagang Lagi

Alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang

Ada beberapa alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang lagi, setelah sekian lama selalu menjadi pilihan utama. Termasuk Indonesia, yang sudah meninggalkannya walaupun belum sepenuhnya.

Baca Juga : Aplikasi Penghasil Uang Terbukti Bisa Dicairkan

Hal tersebut terbukti dari perjanjian perdagangan yang dilakukan oleh Bank Indonesia dengan Bank Sentral China. Jadi saat melakukan jual beli memakai mata uang masing-masing yaitu Rupiah dan Yuan.

Ternyata bukan hanya dengan China saja, Indonesia melakukan perjanjian kerja sama melakukan pembayaran mata uang masing-masing juga dengan negara lain. Ada Jepang, Thailand, serta Malaysia dan ternyata dampaknya cukup bagus.

Hal tersebut semakin menguatkan beberapa negara terutama di Asean untuk menghindari ketergantungan memakai Dolar. Untuk alasan lebih lanjut mengapa Dolar tidak dipakai lagi, coba simak pembahasan detailnya di bawah ini.

Alasan Dolar Tidak Dipakai untuk Mata Uang Dagang

Alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang

Sebenarnya bukan hanya Indonesia dan negara di ASEAN saja, beberapa juga sudah lebih dulu meninggalkan. Sebagai contoh benua biru Eropa, semua negaranya tidak memakai Dolar lagi dan memilih menggunakan Euro.

Jadi seluruh negara di benua biru tersebut bila melakukan perdagangan memakai Euro selain itu,  ada juga Jepang dan China. Keduanya sudah meninggalkan mata uang Amerika tersebut sejak lama.

Hampir semuanya merasakan dampak positif, yaitu mampu mengendalikan mata uang sendiri. Selain itu berbagai macam kebijakan di bidang ekonomi juga tercipta dengan mudah, sebagai upaya pembangunan.

Dengan begini, percepatan akan terjadi karena tolak ukur keuangannya bukan lagi ke Dolar melainkan mata uang lokal sendiri. Jadi tidak harus menghitung berapa konversinya terlebih terlebih dulu.

Bukan hanya itu saja, masih ada beberapa alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang lagi, berikut penjelasannya.

Volatilitas

Alasan pertama mengapa beberapa negara termasuk Indonesia mulai meninggalkan Dolar adalah volatilitasnya sangat tinggi. Agar mudah memahami, kita berikan contohnya kepada kalian melalui ilustrasi singkat.

Hari ini, 1 Dolar kalau dikonversi ke rupiah menjadi Rp10 ribu. Tetapi satu jam kemudian naik menjadi Rp11 ribu, bisa jadi tiga hari setelah turun drastis, menjadi Rp7 ribu.

Kondisi ini membuat kebijakannya semakin sulit, saat rupiah menguat mungkin Indonesia akan memiliki keuntungan besar. Tetapi, kalau saat Dolar sedang menjadi raja, terkena defisit yang merugikan.

Inilah alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang lagi, untuk menghindari angka defisit terlalu banyak. Perlu tahu, kalau volatilitas ini terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah kondisi negara tersebut.

Selain itu perkembangan situasi dunia yang juga berpengaruh besar terhadap nilai tukarnya. Bila keadaan ini terus didiamkan, bisa jadi ketergantungan tersebut membuat negara akan merugi dan sulit berkembang.

Alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang adalah menghindari kerugian yang sering terjadi. Karena dalam sistem jual beli, harusnya ada keuntungan melimpah, bukan kerugian akibat mata uang.

Selain harganya tidak menentu dalam melakukan proses pembayaran selalu ada biaya tambahan. Jadi angkanya semakin tinggi walaupun tergantung kepada bank, tetapi hal ini cukup memberatkan bagi para pelaku usaha.

Meningkatkan Ketahanan Ekonomi

Alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang lagi adalah meningkatkan ketahanan ekonomi. Perlu tahu, bahwa Amerika terkadang mengeluarkan kebijakan perekonomian yang berdampak besar pada sebuah negara.

Sebagai contoh ketika negeri Paman Sam Tersebut membuat keputusan untuk menaikkan suku bunga federal reserve atau kebijakan perdagangan. Kondisi ini akan memicu sebuah keputusan baru untuk menghindari kerugian.

Maka dari itu, alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang agar semua negara bisa berdaulat dan mampu meningkatkan ketahanan ekonomi. Apa saja kebijakan Amerika tidak akan berdampak langsung.

Karena uang yang dipakai bukan milik orang lain melainkan diri sendiri. Maka tidak ada selisih, atau penambahan biaya lagi, bahasa bisnisnya adalah keluar sekian, angka untuk pembayaran juga sekian.

Tidak ada untung memang, berbeda saat masih bergantung. Saat mata uang tersebut menguat maka, angkanya akan sedikit dari ketentuan awal, misal Rp10 ribu, ternyata turun jadi Rp1 ribu, sudah untung banyak.

Inilah alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang lagi terutama bagi beberapa negara maju yang menginginkan kedaulatan sendiri. Karena dampak dari kebijakan tersebut memang nyata positifnya.

Meningkatkan Daya Saing

Ketika sebuah negara meninggalkan Dolar maka, untuk membeli sesuatu bisa memakai mata uangnya sendiri. Hal tersebut mampu meningkatkan daya saing ke dunia internasional karena mampu meningkatkan ekspor.

Ketika uang lokal sering digunakan untuk pembiayaan maka para eksportir mampu menekan biaya fluktuasi akibat keadaan tidak menentu. Bahasa mudahnya adalah produk tersebut jauh lebih murah.

Inilah alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang lagi dapat meningkatkan daya saing. Dengan produk murah dan berkualitas, membuat barang tersebut lebih dikenal di dunia internasional.

Kesempatan negara lain memakainya dan merasakan bahwa kualitasnya bagus sangat tinggi. Bukan tidak mungkin, akan melakukan order lagi. Bahkan kesempatan untuk memperluasnya sangat terbuka lebar.

Alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang sehingga daya saing dapat meningkat adalah kepercayaan diri investor dalam berinvestasi. Tidak adanya Dolar membuat Rupiah misalnya, berkuasa di rumahnya sendiri.

Hal tersebut juga mendorong stabilitas sehingga, risiko kerugian karena nilai tukarnya melonjak sangat minim. Mau keadaan politik memanas, atau kondisinya kurang bagus, Rupiah masih kuat dan tetap berjaya.

Keadaan ini tidak akan merugikan investor bila ingin berinvestasi, karena saat harganya Rp10 ribu maka melakukan pembayaran juga sama. Tidak lebih mahal atau murah, tingkat ketenangannya sangat tinggi daripada memikirkan fluktuasi.

Mengurangi Spekulan

Alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang adalah untuk menghindari spekulan, seperti diketahui bahwa Dolar memang disukai para spekulan. Karena pergerakannya memang sangat signifikan hitungannya menit, bukan hari.

Pergerakan pasarnya cukup pesat, bila spekulan ini berlebihan terhadap mata uang Amerika tersebut. Nantinya setiap negeri mengalami tekanan ekonomi, sehingga kondisi dalam negeri menjadi tidak stabil.

Apalagi kalau sedang mengalami eksposur, nantinya membuat negara tersebut terjatuh dan bisa juga membentuk utang denominated. Kalau hal tersebut terus dibiarkan sangat membahayakan, maka dari itu perlu ada ketegasan.

Inilah alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang lagi, karena risiko dari spekulan tersebut cukup mengerikan. Dengan menghindarkan dari ketergantungan mampu meminimalkan risiko, bahkan menjadi nol.

Sebuah pertimbangan dalam kebijakan yang harus diperhitungkan secara matang. Karena perkembangan situasi luar negeri ini nantinya juga akan berdampak pada kondisi lokal, terutama stabilitas harganya juga akan terdampak.

Kerugian besar terjadi, seharusnya bisa membayar Rp10 ribu saja. Karena terpengaruh pada fluktuasi maka pembayarannya menjadi Rp300 ribu. Lonjakan Rp290 ribu ini sangat besar dan dapat dimanfaatkan untuk lainnya.

Maka dari itu Jepang, China, dan Eropa yang sudah mengetahui bagaimana dampak serta kerugiannya memilih untuk meninggalkan. Kemudian, semuanya sepakan untuk mengajukan perjanjian dengan mata uang masing-masing.

Kondisi Masyarakat Akan Terdesak

Terakhir mengapa dolar harus ditinggalkan agar masyarakat tidak terdesak. Sebagai contohnya bagaimana kebijakan Indonesia soal Bahan bakar. Bahan mentahnya belum mampu produksi sendiri sehingga harus impor.

Karena menggunakan Dolar maka, harus pembeliannya harus sesuai. Ketika harga minyak dunia turun menjadi $1 seharusnya pembayarannya sekian. Tetapi negara harus mengeluarkan Rp15 ribu agar bisa membelinya.

Jadi saat masyarakat Indonesia ingin menikmatinya maka harus membayar sekitar Rp17 ribu karena ada biaya tambahan dan lain-lain. Coba saja kalau pemerintah tetap membayarnya dengan angka Rp1.

Kemungkinan penduduk sekitar bisa merasakan kalau bahan bakar sekarang hanya Rp10 atau lebih terjangkau daripada itu. Dari ilustrasi ini sudah paham bukan, mengapa harus mengurangi ketergantungan terhadap mata uang Amerika.

Selisih yang perlu dibayarkan tersebut sebenarnya bisa digunakan untuk kebijakan lainnya dan demi kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu, kebijakan dari pemerintah yang mulai mengurangi memang tepat.

Negara seperti Jepang, terlebih China yang sudah terlebih dulu melakukannya sekarang mulai merasakan dampaknya. Tidak heran perekonomian Tiongkok melesat jauh sampai saat ini dan jadi yang terkuat di dunia.

Baca Juga : Kenaikan BBM, Jenis, Penyebab, Dampak dan Cara Menanganinya

Alasan Dolar tidak dipakai untuk mata uang dagang lagi membuat beberapa negara mulai dari sisi perekonomian sudah menunjukkan daya saingnya, sebuah hal positif terlebih tuntutan dari zaman globalisasi seperti ini.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts